Pertanyaan seorang mahasiswa terlontar pada suatu kesempatan. Ia sulit sekali untuk bisa menjadi serius dalam belajar. Mudah berubah pikiran dan goyah dalam konsentrasi belajar.
Pertanyaan itu mengingatkan saya pada waktu masih kuliah di Universitas Terbuka. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)yang saya perolehpada semenster pertama model belajar jarak jauh kuliah ini hanya 1,5 (satu koma lima). Prestasi buruk ini tidak menjadikan saya patah arang. Tetapi sebaliknya, saya malah meningkatkan komitmen untuk belajar lebih serius. Saya berjanji pada diri sendiri untuk meningkatkan intensitas, kuantitas dan kualitas belajar.
Tentu saja waktu itu (1987) saya belum mengenal teknik-teknik Neuro-linguistic Programming (NLP) dan apalagi mengenal hypnosis. Tetapi ternyata saya adalah praktisi NLP dan hypnosis alami dalam kaitannya dengan peningkatan keseriusan belajar. Yang saya lakukan adalah menghipnosis diri dan mengelola energi emosi versi NLP.
Menghypnosis Diri
Kalau hypnosis adalah kondisi pikiran yang dihasilkan oleh sugesti, maka saya dalam meningkatkan keseriusan belajar dengan cara menghypnosis kondisi pikiran saya. Ketika diri ini sudah terhypnosis, selanjutnya akan mudah mengarahkan kondisi pikiran untuk tujuan tertentu atau target tertentu.
Pertama, fokuskan pikiran pada target yang saya inginkan. Target yang saya inginkan waktu itu adalah IPK di atas tiga untuk tujuan jangka pendek, lulus sarjana tujuan jangka menengah.
Kedua, yakinkan bahwa target sebesar itu saya benar-benar mau menerima dan benar-benar saya meniginkannya. Saya tidak memikirkan tetang beban belajar yang bakal menyertainya. Pokoknya terima dengan senang hati. Tidak ada rasa pesimis sedikit pun. Apa pun resiko belajar yang bakal terjadi, saya harus ikhlas menjalaninya. Kalau masih ada bagian dalam tubuh yang menolaknya, berarti saya belum ikhlas, kalau belum ikhlas berarti belum dalam kondisi terhypnosis.
Ketiga, saya harus memperjelas visualisasi bila target terpenuhi. Saya membayangkan, menggambarkan dan merasakannya bila target terpenuhi. Saya terhypnosis dengan kebahagiaan yang bakal terjadi bila target terpenuhi. Bukan hanya target IPK saja yang menghypnosis saya, tapi lebih dari itu adalah gambaran “rumah” masa depan saya selalu menghypnosis saya untuk belajar.
Keempat, saya menghypnosis diri dengan kamar kontrakan saya waktu itu. Dalam dinding kamar saya tempel tulisan “SERIUS BELAJAR!” Maksudnya, biar tulisan itu selalu mengingatkan saya. Pada sisi lain, saya bermaksud agar tulisan itu masuk ke alam bawah sadar.
Musik instrumentalia juga sering mengiringi aktivitas belajar. Ternyata musik semacam itu memicu syaraf untuk lebih rileks, otak tdak cepat lelah. Lebih dari itu, kombinasi antara ruangan dan musik telah menghipnosis diri saya untuk belajar serius. Lingkungan (kamar) cukup berperan dalam hypnosis diri. Ini yang disebut environmental hypnosis.
Mengelola Emosi
Waktu itu saya belum mengerti bahwa pendekatan yang saya gunakan untuk meningkatkan keseriusan belajar termasuk pendekatan NLP. Pendekatan yang saya gunakan waktu itu –sampai sekarang juga masih—yakni memanfaatkan energi emosi. Anda juga memiliki emosi, hanya penggunaannya untuk apa?
Manusia dikaruniai energi luar biasa yang disebut emosi. Dengan emosi seseorang bisa bergerak energik, bisa bersemangat, bahagia, bergairah, optimis hingga keteguhan. Namun dengan emosi pula seseorang bisa sedih, menangis, marah, dan bisa bunuh diri. Kita sebagai pemilik harus bijak mengelolanya, kalau tidak ingin hidup kita merana. Kita jangan sampai mati secara emosional yakni hidup tanpa gairah alias monoton seperti mesin.
Kebanyakan kita terjebak dalam perangkap emosi negatif. Kita telanjur keliru memaknai emosi dengan hal-hal yang bersifat negatif seperti: marah, sedih, ketakutan, frustasi dan kekecewaan. Begitu ada sebuah tanda-tanda kesedihan datang –gagal misalnya— kita cenderung menggunakan emosi untuk memperbesar intensitas emosionalnya. Apa jadinya? Kita cenderung mendramatisir sebab-sebab kegagalan, kita terhanyut dalam kesedihan dan akhirnya putus asa, tidak mau mencoba lagi. Yang seperti itu termasuk salah urus dalam pemanfaatan emosi.
Anda adalah manajer energi emosi. Bila saja segera menyadari bahwa pengunaannya hanya akan menghasilkan kesedihan, keputuasaan, frustasi dan sejinisnya, kenapa yang seperti itu harus dipertahankan? Energi emosi hanya akan bermanfaat dan memberdayakan diri bila untuk mendukung tujuan-tujuan positif. Kongkritnya, energi emosi akan lebih bermanfaat bila untuk membuang semua penghambat pencapaian target, ketimbang untuk mendramatisir keadaan menuju kesedihan, keutusasaan dan sejenisnya. Dan Anda pasti mampu karena Andalah penguasa tunggal atas energi emosi itu.
Bagaimana cara memanfaatkan energi emosi untuk meningkatkan keseriusan belajar?
Pertama, saya tetap pegang target IPK yang saya tentukan. Target benar-benar saya lekatkan, saya install dalam pikiran saya hingga menjadi “warning system” yang setia setiap saat mengingatkan saya.
Kedua, saya “menghidupkan” target. Sebab, target hanyalah target saja dan tidak ada ruhnya, tidak ada maknanya tanpa rekayasa dari pemiliknya. Dalam hal ini saya menghidupkan target dengan cara: IPK dapat mendekatkan cita-cita saya, IPK membahagiakan saya, IPK dapat “merubah” nasib saya, dapat meningkatkan gengsi saya, dan sejumlah “ruh” lain yang dapat menjadikan saya benar-benar terhypnosis untuk mencapainya.
Ketiga, saya memperbesar alokasi dan intensitas emosional. Alokasi emosi berarti emosi-emosi yang selama ini digunakan untuk “menghidupkan” rasa malas, kekecewaan kepedihan dan sejenisnya, segera saya tarik untuk dialokasikan ke aktifitas pencapaian target. Intensitas emosional berarti, saya memperbesar daya dukung emosi dengan cara memperbesar daya juang, semangat, gairah dan optimisme hidup. Semua intensitas itu saya tumpahkan ke dalam semangat belajar.
Keempat, saya memelihara semangat belajar pada setiap momentum. Peristiwa apa pun saya selalu mengambil makna positifnya. Ketika melihat orang-orang sukses, hati saya tambah gairah untuk meraih sukses; ketika melihat orang-orang gagal saya mencoba mengambil pelajaran darinya. Ketika ada orang yang menghina dan mencacimaki saya tidak larut bersedih, tapi sebaliknya saya tingkatkan komitmen saya untuk sukses. Begitu pun setiap prestasi kecil yang saya miliki, saya kumpulkan ke dalam satu bentuk optimisme baru. Kumpulan dari semangat ini saya tumpahkan, saya alokasikan dan saya perdayakan untuk membangun semangat belajar.
Ternyata untuk membangun semangat tidak terlalu sulit, cukup sumber di dalam diri kita dan di luar kita yang dapat memicu pikiran agar diri kita tetap semangat dan serius. Pikiran –dalam hal ini neuron (syaraf)—menerima semua stimulus dari luar. Semua stimulus itu berupa sinyal-sinyal listrik ditangkap oleh cortex (kulit otak) dan melalui jaringan syaraf yang kompleks, stimulus diolah menjadi “program”. Atau proses programming versi NLP. Kualitas program sangat ditentukan oleh “dapur” pengolah yang bersemayam dalam pikiran kita. Semakin bagus dapurnya semaikin baik outputnya. Belief (kepercayaan/keyakinan) berdasarkan pengalaman hidup merupakan unsur penting dalam programming pikiran.
Kualitas emosi dan spiritual seseorang sangat menentukan kualitas programming. Belief memang berperan penting dalam programming, namun setelah jadi programming atau jadi file dalam pikiran kita, kualitas emosinal kita yang kemudian berperan. Yang bisa menghidupkan file itu adalah emosi kita. Program bagus, file bagus, kalau malas memanfaatkannya maka file itu (baca program) hanya akan menjadi arsip saja.
Program yang sudah saya buat, yakni target IPK di atas tiga, selalu saya “hidupkan” dengan intensitas emosional yang lebih dari cukup. Toh untuk meningkatkan dan menggunakan emosi tidak butuh biaya. Semua emosi yang kita miliki gratis. Meningkatkan intensitas dan kualitas emosional untuk memenuhi target IPK tertentu menjadikan semangat belajar terus terpelihara.
Hasilnya? IPK pada semester itu mencapai target. Memang bukan prestasi gemilang, namun setidaknya saya telah membuktikan dengan menghypnosis diri dan mengelola emosi secara proporsional dapat meningkatkan prestasi akademik. Bahkan capaian hidup saya saat ini, tidak lepas dari hypnosis diri dan memanfaatkan energi emosi secara proporsional.
Serius belajar dan serius lainnya agar target tercapai bisa ditingkatkan dengan cara menghynosis diri dan mengelola emosi. Bila Anda terhypnosis dengan target Anda, seluruh energi diri mendukung target Anda. Silakan dicoba!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar